Pengertian Hadits dan Jenis-Jenis Hadits

Hadits merupakan salah satu panduan atau penunjuk dalam kesulitan (perkara) berbagai hal masalah kehidupan seperti contoh, ibadah, hukum, perdagang, membersihkan diri, dan yang lainnya.

Hadits ini adalah pedoman kedua setelah al-Qur’an. Nah ketika di dalam al-Qur’an adalah permasalahan yang harus di selesai dengan sebuah tata cara maka umat islam akan menggunakan hadits sebagai penuntunnya.

Atau juga, jika di dalam al-Qur’an ada perkara yang tidak jelas, maka akan kembai lagi ke hadits sebagai sumber yang untuk memperjelas perkara tersebut. Nah, diartikel kali ini penulis akan memberikan sebuah penjelas atau pengertian hadits. Apa itu yang dimaksud dengan hadits? Simak pembahasan berikut ini.

Definisi atau Pengertian Hadits

kajian-salafi.blogspot.com

Secara bahasa pada dasarnya yang berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata “al-hadits“, secara bahasa yang artinya “khabar” (berita) atau sesuatu hal yang baru. Sedangkan “al-Huduts” yaitu, muncul sesuatu yang setelah sebelumnya belum ada. “Ahdatsa“, yaitu menciptakan.

Nah, jikalau secara istilah, “hadits” ialah, sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi Kita Muhammad sholallahu ‘alaihi wassallam, baik berupa sebuah ucapan, sifat-sifat beliau, persetujuan, ataupun perbuatan beliau.

Nah jika dalam terminologi agama islam sendiri, dijelaskan bahwa “al-Hadits atau Hadits” merupakan setiap perbuatan, percakapan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassallam.

Jadi yang sudah dijelaskan diatas, bahwa hadits merupakan salah satu panduan umat islam yang kedua setelah al-Qur’an dalam melaksanakan aktivitas kehidupan. Untuk mengambil sebuah tindakan, baik masalah hukum, perdagangan, maupun ibadah dan lain hal sebagainya.

Jenis-Jenis Hadits

Hadits dikelompokkan harus berdasarkan beberapa kategori. Dan setiap kategori itu adalah untuk dijadikan bahwa hadits itu benar-benar shahih (benar) datang dari Nabi sholallahu ‘alaihi wassallam atau tidak.

Jadi tidak semua hadits itu adalah shahih, maka berhati-hatilah ketika anda mendapatkan sebuah berita dari buku atau ucapan seseorang dengan menisbahkan kepada Nabi Muhammad sholallahu ‘aiahi wassallam. Karena kita harus meneliti hadits tersebut.

Jadi berikut ini beberapa kategori jenis hadits, yaitu.

Berdasarkan Tingkat Keaslian Hadits

tebuireng.ac.id

Hadits berdasarkan tingkat keasliannya, dapat dibagi menjadi 4 macam hadits, yaitu sebagai berikut:

Hadits Shahih

Hadits shahih merupakan yang mempunyai sanad maupun matan yang bersambung kepada Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassallam. Hadits ini paling diakui keasliannya dan paling banyak diterima oleh Para Ulama’ terdahulu.

Baca Juga Yaa Biografi Imam Bukhari

Hadits Hasan

Hadits hasan merupakan hadits yang sanadnya bersambung, akan tetapi perawinya yang tidak sempurna hafalannya. Hadits hasan menurut Ibnu Hajar al-Atsqalani, beliau mengatakan “Apa yang sanadnya bersambung dengan periwayatan yang adil, hafalannya yang kurang dari awal sampai akhir sanad dengan tidak syad dan tidak pula cacat

Bisa disimpulkan, pada dasarnya Hadits hasan dengan hadits shahih tidak ada perbedaan, kecuali hanya pada perawinya yang kurang hafalannya meskipun sedikit, Untuk persyaratan lainnya, hadits hasan dan hadits shahih itu adalah sama.

Hadits Dha’if

Hadits dha’if ini merupakan hadits yang sanadnya tidak tersambung adapun periwayatnya tidak kuat hafalannya atau tidak adil. Jadi, hadits ini tidak bisa untuk dijadikan sebuah dalil atau panduan dalam kehidupan kita, karena akan dikhawatirkan hadits tersebut menyesatkan.

Banyak sekali hadits dha’if akan tetapi hadits tersebut dalam perkataannya atau isinya itu dapat membuat kita tercengang. Karena sangat cantik isi dari hadits dha’if tersebut.

Hadits Maudhu

Hadits maudhu‘ ini merupakan hadits yang dicurigai palsu ataupun karang dari manusia sendiri, dan juga sama dengan hadits dha’if dikhawatirkan dapat menyesatkan.

Berdasarkan Keutuhan Rantai Sanad

Berdasarkan keutuhan rantai sanadnya, hadits dapat digolongan dalam 6 jenis hadits. Berikut ini, jenis-jenis hadits tersebut:

Hadits Musnad

Hadits musnad merupakan hadits yang penuturnya paling jelas dan tidak terpotong sama sekali.

Hadits Mursal

Hadits Mursal merupakan hadits yang penuturnya tidak dijumpaikan secara langsung.

Hadits Munqathi’

Hadits Munqathi’ merupakan hadits yang putus pada salah satu ataupun dua penutur.

Hadits Mu’dlal

Hadits Mu’dlal merupakan hadits yang terputus pada dua generasi penutur secara berturut-turut.

Hadits Mu’allaq

Hadits mu’allaq merupakan hadits yang terputus sebanyak 5 penutur, yang dimulai dari penutur pertama secara berturut-turut.

Hadits Mudallas

Hadits Mudallas merupakan hadits yang tidak tegas disampaikan secara langsung terhadap penutur.

Baca Juga Yaa Biografi Imam Muslim

Berdasarkan Sampainya Kepada Kita

Hadits yang sampai kepada kita, terbagi menjadi 2 bagian, yaitu:

Hadits Mutawattir

Nah, kata mutawatir sendiri, secara bahasa diambil dari kata “tawatur“, yang artinya, “berdatangan secara silir berganti”.

Hadits mutawatir adalah hadits yang mempunyai jalur periwayatan yang sangat banyak dalam setiap thabaqah (tingkatan) perawi, sehingga mustahil jika hadits mutawir itu berdusta (seperti, dha’if dan sebagainya). Dan mustahil jika terjadi kesepakatan untuk berdusta dalam membawakan hadits tersebut, dengan model periwayatan secara indrawi (mendengar atau melihat langsung).

Adapun hadits mutawatir, dibagi kedalam 2 kategori yaitu, mutawatir lafzi dan mutawatir maknawi. Sedangkan M. Syuhudi Isma’il menambahkan 1 kategori lagi yaitu, mutawatir ‘amali; amalan agama yang dikerjakan oleh baginda Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassallam.

Kemudian diikuti oleh para sahabat dan generasi-generasi seterusnya hingga sekarang ini seperti, waktu sholat, adanya sholat jenazah, sholat ‘id, jumlah raka’at, dan lain sebagainnya amalan ibadah.

Berdasarkan definisi diatas, kita bisa menyimpulkan beberapa hal:

  1. Jadi hadits yang tidak mempunyai periwayatan yang banyak, maka hadits tersebut bukanlah hadits mutawatir.
  2. Model periwayatan secara indrawi yaitu dengan mendengar atau melihat langsung Beliau (Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassallam) bersabda. Hadits mutawatir, yaitu diriwayatkan oleh orang banyak, diterima oleh banyak prang, jadi tidak mungkin bahkan mustahil perawi yang banyak itu berdusta.
  3. Hadits itu didapat dari panca indra, jika dilihat berdasarkan fungsi dari ilmu hadiits yaitu untuk memberikan keyakinan atas berita yang disampaikan periwayat. Maka kedudukan hasits mutawatir ini telah tercapai dengan baik bahwa didalamnya terkandung dengan benar dari Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassallam.

Baca Juga Yaa Biografi Imam Tirmidzi

Hadits Ahad

Secara sederhananya, hadits ahad adalah hadits yang tidak mutawatir. Nah, kata “ahad” sendiri, adalah bahasa Arab yang berarti satu. Maka pengertian hadits ahad adalah hadots yang tidak memenuhi persyaratan dari hadits mutawatir, atau juga jumlah periwayatnya terbatas dan tidak banyak seperti hadits mutawatir.

Begitupun dengan hadits ahad, yang terbagi menjadi 3 kategori yaitu, hadits masyhur, hadits aziz, dan hadits gharib. Hadits masyhur adalah hadits yang diriwayatkan lebih dari dua orang, tetapi belum mencapai derajat mutawatir.

Hadits aziz adalah hadits yang jumlah periwayatnya tidak kurang dari dua orang dalam seluruh tingkatannya. Sedangkan hadits gharib adalah hadits yang periwayatnya satu orang saja dengan tanpa mempersoalkan dalam berbagai tingkatannya.

Tinggalkan komentar