Biografi Imam Syafi’i. Seorang Ulama Mazhab

Imam Syafi’i dikenal dari salah satu empat mazhab. Siapa kah sih Imam Syafi’i? Imam Syafi’i merupakan salah satu ulama yang sudah dikenal keluasan ilmu dalam bidang hadits maupun yang lainnya. Beliau juga salah satu empat mazhab, dan sedangkan Mazhab Syafi’i yang kini kebanyakan dianuti oleh penduduk Indonesia.

Nah, kali penulis akan menkisahkan tentang sosok biografi Imam Syafi’i itu. Serta biografi beliau, simak berikut ini.

Biografi dan Latar Belakang

Beliau mempunyai nama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris As-Syafi’i, lahir di Gaza Palestina pada tahun 150 H (767 M), berasal dari bangsawan Qurays dan masih jalur keturunannya bertemu dengan Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassallam.

Dari ayahnya, garis keturunannya bertemu dengan Abdul Manaf (kakek ketiga Rasulullah), sedangkan dari ibunya masih merupakan cicit Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Semasa beliau dalam kandungan, kedua orang tuanya mgninggalkan kota Mekkah menuju ke kota Palestina.

Setibanya kedua orang tua beliau di Gaza, ayahnya jatuh sakit dan berpulang ke rahmatullah, kemudian beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibu beliau dalam kondisi yang meprihatikan dan serba kekurangan. Nah, ketika Imam Syafi’i usia 2 tahun, ia bersama ibunya untuk kembali ke kota Mekkah dan dikota Mekkah lah Imam Syafi’i mendapatkan pengasuhan yang cukup dan intensif.

Masa Kecil Imam Syafi’i

Ketika berusia 9 tahun, beliau telah menghafal keseluruhan ayat Al-Qur’an dengan lancar, bahkan beliau pernah mengkhatamkan 16 kali dalam perjalanannya ketika dari Mekkah menuju kota Madinah. Tak lama kemudian sekitar setahun, Al-muwattha’ karangan Anas bin Malik (Imam Malik) ini, Imam Syafi’i juga menghafalkannya yang didalamnya berisi 1.720 hadits pilihan, bahkan beliau menghafalnya didalam kepala.

Imam Syafi’i juga menekuni bahasa dan sastra Arab didusun Badui bani Hundail selama beberapa tahun. Kemudian beliau kembali ke kotanya dan belajar Fiqh dari seorang ulama besar yang juga mufti dari kota Mekkah yaitu Imam Muslim bin Khalid Azzanni.

Dan berkat kecerdasan inilah yang membuat Imam Syafi’i dalam usia yang sangat muda (sekitar 15 tahun) telah duduk dikursi mufti dikota Mekkah. Namun demikian Imam Syafi’i belum merasa puas atas ilmu yang beliau punya pada saat itu. Karena beliau masih belum merasa puas dalam menuntut ilmu.

Karena semakin beliau menekuni suatu ilmu, semakin banyak ilmu yang belum beliau ketahui, sehingga kita tak mengherankan jika guru Imam Syafi’i begitu banyak jumlahnya bahkan sama jumlahnya dengan banyaknya para muridnya.

Hijrah Demi Ilmu

Hijrah yang dimaksud bukan hijrah dalam bertobat, sebagaimana yang digunakan anak pada sekarang ini. Akan tetapi hijrah yang dimaksud adalah berpindah dari suatu daerah ke daerah lain, sebagaimana hijrahnya Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassallam dari Mekkah menuju Yatsrib, Madinah.

Selain hijrah ke Madinah pada tahun 170 H untuk belajar langsung dengan Imam Dar al-Hijrah, yakni Imam Malik bin Anas, beliau juga berkunjung ke Irak dan Kufah untuk belajar dengan para murid Abu Hanifah, sebelum akhirnya kembali lagi ke Madinah untuk menemani Imam Malik hingga wafat pada tahun 179 H.

Kesempatan Imam Syafi’i untuk mengunjungi ke berbagai kota, tak lain lagi untuk membantu beliau mengetahui budaya serta adat istiadat yang berlaku di kota-kota tersebut. Hal ini secara tidak langsung menjadi referensi Imam Syafi’i untuk membangun fatwa-fatwa beliau dalam mazhabnya kelak.

Ada beberapa syair yang merupakan kegemaran Imam Syafi’i, dalam isi syair tersebut tentang anjuran untuk berhijrah, di antaranya ialah:

  • “Singa jika tidak keluar dari sarangnya, ia tidak akan mendapatkan makanan. Begitu juga dengan anak panah, jika tidak mluncurkan dari busurnya, maka anak panah tersebut tidak akan mengenai sasaran.”
  • “Musafirlah! Engkau akan menemukan sahabat baru pengganti sahabat-sahabat lama yang engkau tinggalkan. Dan bekerjalah yang giat! Karena kenikmatan hidup akan tercapai dengan bekerja keras.”

Kontribusi Imam Syafi’i

Meskipun beliau menguasai hampir seluruh bidang ilmu, namun beliau lebih dikenal dengan ahli hadits dan hukum. Karena inti dari pemikiran beliau lebih fokus pada 2 bidang ilmu tersebut, pembelaannya yang besar terhadap sunnah Nabi sehingga beliau digelari dengan Nasuru Sunnah (pembela Sunnah Nabi).

Dalam pandangan beliau, sunnah Nabi mempunyai kedudukan yang tinggi, bahkan beberapa kalangan menyebutkan bahwa Imam Syafi’i menyetarakan kedudukan sunnah dengan Al-Qur’an dalam kaitan sebagai sumber hukum Islam. Karena itu menurut beliau setiap hukum yang ditetapkan Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassallam pada hakekatnya merupakan pemahaman Nabi terhadap Al-Qur’an.

Selain dari kedua sumber tersebut (Al-Qur’an dan As-Sunnah), dalam mengambil sebuah ketetapan hukum, Imam Syafi’i menggunakan Ijma’, Qiyas dan Istidlal (penalaran) sebagai dasar hukum Islam.

Berkaitan dengan Bid’ah, Imam Syafi’i berpendapat bahwa Bid’ah dibagi menjadi 2 macam yitu, Bid’ah terpuji dan sesat. Kok bisa dikatakan dengan Bid’ah terpuji? Jika Bid’ah tersebut selaras dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an dan Sunnah begitu juga dengan sebaliknya. Dalam soal taklid, beliau memberikan perhatian terhadap para murid beliau agar tidak menerima pendapat-pendapat begitu saja dan Ijtihadnya.

Sebaliknya malah menyuruh untuk bersikap kritis dan berhati-hati dalam menerima suatu pendapat, sebagaimana ungkapan beliau, “Inilah Ijtihadku, apabila kalian menemukan Ijtihad lain yang lebih baik dari Ijtihadku maka ikutilah tersebut“.

Dituduh Sebagai Pengikut dan Penyebar Faham Fitnah

Pada saat ketika menjadi seorang mufti di Yaman, fitnah yang sangat kejam melanda beliau. Pada saat itu beliau adalah pendukung partai Syi’ah yang sedang gencar-gencarnya mengancam eksistensi negara dan khalifah waktu itu.

Hal seperti itu maklum, karena khalifah waktu itu adalah Harun al-Rasyid bagian dari Dinasti Abbasiyah, dinasti yang mana berseteru dengan kelompok Syi’ah. Pada akhirnya, Imam Syafi’i pun dijebloskan ke dalam penjara dan beliau hampir dihukum mati, karena diisukan Imam Syafi’i berkomplot untuk menumbangkan khalifah.

Imam Syafi’i tidak tinggal diam, beliau mencoba untuk berdiskusi dengan khalifah Harun a-Rasyid. Sebagaimana yang dikisahkan oleh al-Hamawi, Imam Syafi’i ditanya i tiga hal, meliputi pemahaman terhadap Al-Qur’an, nasab kaum Arab dan keilmuan astronomi.

Tak disangka, bahwa jawaban yang diberikan Imam Syafi’i kepada khalifah Harun al-Rasyid sangat mengena dihati sang khalifah. Sekaligus bantahan yang dituduhkan kepada Imam Syafi’i atas tuduhan sebagai pengikut Syi’ah. Akhirnya, Imam Syafi’i dibebaskan dan diberikan juga hadiah 5 ribu dinar, bahkan khalifah meminta secara khusus untuk mengajarnya.

Imam Syafi’i Dituduh Tidak Shaleh

Karena ketinggian ilmu dan keshalehan dalam hal ibadah, ini yang menyebabkan anak dari Imam Ahmad bin Hanbal penasaran atas ketinggian dan keshalehan Imam Syafi’i. Ketika itu pada saat putri Imam Ahmad ragu dan penasaran dengan tingkah laku Imam Syafi’i yanag dikenal shaleh dan keluasan ilmu.

Akhirnya, putrinya ini meminta kepada ayahnya untuk mengundang Imam Syafi’i untuk tinggal dirumah Imam Ahmad. Kenapa Imam Ahmad mengundang Imam Syafi’i kerumahnya? Karena permintaan putrinya yang ingin melihat tingkah laku Imam Syafi’i yang katanya terkenal shalehnya, karena penasaran putri Imam Ahmad yang ingin melihat Imam Syafi’i secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.

Pada saat Imam Syafi’i sudah sampek dirumah Imam Ahmad bin Hanbal, putri tuan rumah ini selalu memperhatikan seluruh tingkah laku Imam Syafi’i yang dikenal shaleh itu. Mulai dari cara beliau makan?, apa yang beliau kerjakan?, serta kapan saja beliau tidur pada waktu tengah malam?

Singkat Cerita

Singkat cerita saja. Akhirnya putri Imam Ahmad tersebut kecewa ketika apa yang dikatakan oleh sang ayah mengenai ketinggian akhlaq dan keshalehan Imam Syafi’i itu ternyata dusta.

Karena ia melihat Imam Syafi’i ketika diajak makan oleh ayahnya, Imam Syafi’i makan dengan sangat lahap, bahkan seperti orang yang tidak makan beberapa hari. Kemudian pada malan hari ia melihat Imam Syafi’i tidak mengerjakan sholat Tahajjud sebagaimana biasanya orang shaleh kerjakan. Serta ketika pagi harinya ia melihat Imam Syafi’i langsung pergi ke masjid dan langsung juga mengimami shalat padahal Imam Syafi’i belum berwudhu setelah bangun tidur.

Saat itu ia merasa di bohongi oleh ayahnya, putri Imam Ahmad langsung menceritakan perihal apa yang dilihat nya tentang Imam Syafi’i kepada ayahnya.? Lalu Imam Ahmad pun ragu dengan apa yang diomongkan oleh putrinya tadi, kemudian beliau pun memanggil Imam Syafi’i untuk mengonfirmasi apa yang telah beliau kerjakan ketika Imam Syafi’i bermalam dirumah Imam Ahmad.

Beberapa kemudian, Imam Syafi’i mengatakan mengenai tiga hal yang dilihat oleh putri Imam Ahmad tersebut. Dengan mengenai ketika beliau makan dengan sangat lahap itu dikarenakan Imam Syafi’i menyakini bahwa ketika makan dirumah orang yang wara’ dan takut kepada Allah itu adalah berkah.

Nah makanya untuk meraih berkah yang banyak beliau pun makan dengan sangat lahap. Kemudian perihal tentang beliau tidak sholat malam atau tahajjud itu dikarenakan beliau tengah memikirkan 70 masalah umat yang terbayang dibenak Imam Syafi’i sehingga beliau tidak sempat untuk mengerjakan sholat Tahajjud.

Kemudian yang terakhir perihal tentang beliau langsung pergi ke masjid dan langsung mengimami tanpa berwudhu itu dikarenakan kesibukan beliau memikirkan 70 masalah tadi yang mengakibatkan beliau tidak sempat tidur semalaman. Dengan begitu tidak ada satu hal yang menyebabkan batal wudhu beliau, sehingga beliau langsung pergi ke masjid tanpa beliau ulangi wudhunya.

Wafatnya Imam Syafi’i

Imam Syafi’i wafat pada malam jum’at menjelang waktu shubuh pada hari terakhir bulan Rajab 204 H atau tahun 809 M pada saat itu beliau usia 52 tahun.

Pada kisah-kisah beliau diatas semoga kita dapat terinspirasi atas semangatnya beliau dalam menuntut ilmu. Sehingga kita dapat mencontoh nya dalam berakhlaq, keshalehan, ibadah, jika bisa mencontohnya dalam hal mencari ilmu. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin

Tinggalkan komentar