Biografi Imam Bukhari yang Menginspirasikan Umat Islam

Pada zaman kekhalifahan dahulu, para ulama berusaha untuk mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, yang kemudian dihafalkan supaya hadits tersebut tidak hilang. Mereka rela berkorban keluar dari kotanya dengan jalan kaki atau menaiki seekor unta, hanya untuk bertemu dengan ulama dan mencatat hadits-hadits yang ia dapatkan. Namun, pada hari ini, ketika hadits mudah di temukan, sedikit sekali kaum muslimin yang menghafalkan hadits Nabi.

Oleh sebab itu,disini kami menceritakan seorang ulama yang kuat hafalannya(Al-Qur’an atau hadits), yaitu tentang Imam Bukhari dalam menuntut ilmu serta kisah perjalanan hidupnya ketika menghadapi musibah dan cobaan.      Semoga dengan ini, kita bisa meneladani sikap beliau dan mendapat suntikan kesemangatan beliau dalam menuntut ilmu.

Biografi dan latar belakang Imam Bukhari

Nama asli dari Imam Bukhari adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al mughairah bin Bardizbah. Dikenal dengan nama Al-Bukhari karena beliau lahir di daerah Bukhara, sekarang yang di kenal dengan Uzbekistan. Imam Bukhari lahir di bulan 13 Syawwal pada tahun 194 H (21 juli 810 M) di Bukhara, Uzbegistan, Asia Tengah.

Kota Bukhara dahulu adalah kekuasaan persia yang menganut agama majusi (penyambah api). Oleh sebab itu, kakek Imam Bukhari yang bernama Bardizbah adalah seorang yang menganut agama majusi. Namun, setelah Bukhara di taklukan oleh Umat Muslimin pada masa Bani Umayyah, para penduduk langsung memeluk agama islam. Kemudian, kakek Imam Bukhari yang bernama al-Mughairah juga masuk masuk agama islam.

Setelah al-Mughairah masuk islam, Imam Bukhari dan keluarganya menjadi muslim. Bahkan, keluarga Imam Bukhari menjadi keluarga ulama. Ayahnya yang bernama Ismail bin Ibrahim menjadi salah satu ulama terkenal di kota Bukhara. Sedangkan ibu Imam Bukhari menjadi seorang wanita yang ahli ibadah dan memiliki banyak karomah.

Imam Bukhari dididik dalam keluarga yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwasannya ayahnya Imam Bukhari dikenal seseorang yang wara’ dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih-lebih dalam hal yang sifatnya haram.

Kisah Imam Bukhari dalam Menuntut Ilmu

hisbah.net

Tidak diragukan lagi bahwa bagusnya asal keturunan al-Bukhari menjadi sebab terbesar kesegaran Imam Bukhari dalam menuntut. Sebagian dari para ulama mengatakan, “Beliau dididik dalam asuhan para penuntut ilmu hingga tumbuh dewasa (dalam ilmu) dan menyusu pada payudara keutamaan lalu disapih dalam kondisi yang baik. “Bagaimana kisah Imam Bukhari menuntut ilmu?

Meskipun ayah beliau adalah seorang ahli hadits, Imam Bukhari tidak sempat belajar dengannya. Sebab, ayah beliau wafat ketika Imam Bukhari masih kecil. Namun, hal itu tidak menurunkan semangatnya dalam menuntut ilmu. Beliau menuntut ilmu dalam bimbingan serta kasih sayang ibunya.

Pada usia 10 tahun, beliau sudah mulai menghafal hadits-hadits. Bahkan, suatu ketika beliau pernah ditertawakan oleh murid-murid yang lebih tua, karena beliau hanya bisa menulis dua hadits. Kemudian, sang guru berkata, “Mungkin suatu hari nanti, Muhammad (Imam Bukhari) akan menertawakan mereka” atas izin Allah subhaanahu Wa Ta’ala, Imam Bukhari mampu menghafal hadits dengan cepat.

Al Khathib al Baghdadi telah meriwayatkan dari Abu Ja’far Muhammad bin Abu Hatim, “Aku bertanya kepada Imam Bukhari, ‘Bagaimana permulaan urusanmu dalam mencari hadits?’ Bukhari menjawab, ‘Aku diberi ilham saat berada di bangku sekolah.’ Aku bertanya lagi, ‘Berapa usiamu ketika itu? Imam Bukhari menjawab, ‘Sepuluh tahun atau kurang itu. Kemudian aku lulus dari sekolah setelah Ashar lalu aku bolak balik kepada keluargaku selainnya.”

Sejak saat itu, beliau mulai dikenal dengan kemampuan hafalannya. Bahkan, ketika beliau berusia 11 tahun, beliau pernah membetulkan hafalan dari salah seorang gurunya yang salah. Namun, kejadian itu tak membuatnya menjadi sombong. Imam Bukhari terus belajar dan menghafalkan hadits beserta nama-nama perawinya.

Perjalanan Imam Bukhari dalam menuntut Ilmu ke Kota-Kota Besar (Makkah, Madinah, Bashrah, Kufah, Baghdad. Syam dan Mesir)

Sudah menjadi kebiasaan ulama, bahwa mereka tak hanya belajar kepada ulama yang ada di daerah asal mereka. Begitu juga Imam Bukhari, saat berusia 16 tahun, beliau pergi ke Makkah dengan ibunya untuk menunaikan haji. Namun, Imam Bukhari tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Beliau ingin sekalian belajar kepada para ulama di Makkah.

Lalu, Imam Bukhari meminta izin kepada ibunya untuk menetap berada di Makkah dan tidak ikut kembali ke Bukhara. Akhirnya, sang ibu mengizinkannya. Imam Bukhari pun belajar dengan penuh semangat. Beliau belajar ilmu hadits kepada ulama Makkah selama dua tahun. Kemudian, beliau menguasai tulisan-tulisan dari para ulama terkenal dan telah hafal kitab Ibnu al Mubarak dan Waki’ serta mengetahui ucapan mereka.

Setelah menetap di Makkah dua tahun, beliau melanjutkan belajarnya di Kota Nabi, Madinah. Kemudian belajar dengan para ulama di kota tersebut. Imam Bukhari masih belum puas, beliau pun melanjutkan perjalanan menuntut ilmunya ke kota Bashrah di Irak. Di sana beliau bertemu banyak ulama besar.

Kemudian, beliau melanjutkan kembali perjalanannya ke kota Kufah yang tidak jauh dari Bashrah. Setelah selasai belajar di kota Kufah, Imam Bukhari melanjutkan perjalanannya ke kota Baghdad yang saat itu menjadi ibu kota kekhalifahan Abbasiyah.

Di kota Baghdad, Imam Bukhari bertemu dengan Imam Ahmad. Beliau mendapatkan banyak ilmu dari Imam Ahmad. Beliau juga menjadi salah satu murid kesayangannya dari Imam Ahmad. Setelah selesai dari kota Baghdad, beliau pergi ke Syam dan terakhir ke kota Mesir. Setelah itu, Imam Bukhari kembali ke Bashrah.

Itulah, perjalanan hidup beliau keliling kota hanya untuk menuntut ilmu dan mengumpulkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam.

Kecerdasaan dan Keilmuan serta Ibadah Imam Bukhari

kingsunda.com

Setelah usahanya dalam menuntut ilmu. Imam Bukhari dianugrahi kecerdasaan oleh Allah dengan kecerdasaan yang luar biasa. Beliau dikaruniai penguasaan besar dalam hafalan, di samping itu beliau juga dikaruniai fiqh, zuhud, wara’ dan ibadah.

Beliau telah hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits yang itdak shahih. Sebagaiman yang dikatakan oleh Muhammad bin Khamirwaih, “Aku mendengar Bukhari mengatakan bahwa beliau telah hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits tidak shahih.”

Selain cerdas, pintar dan dijadikan sebagai pemimpin paraa ahli hadits. Imam Bukhari juga seorang yang ahli ibadah, zuhud dan dermawan. Sebab, ada pepatah mengatakan bahwa, “Ilmu tanpa amal itu bagaikan pohon tanpa buah. Jadi, beliau tidak hanya belajar dan menghafal saja, tapi beliau juga beramal.”

Pernah suatu ketika, Imam Bukhari sedang shalat dan membaca ayat yang panjang. Setelah selesai shalat, ternyata di kakinya ada banyak bekas sengatan kumbang. Namun, beliau tidak merasa sakitnya sengatan tersebut, karena khusyu’nya dalam shalat. Subhaanallah

Muhammad bin Hatim berkata, “Muhammad bin Ismail di undang ke kebun milik salah seorang sahabatnya. Ketika waktu dhuhur tiba, beliau shalat menjadi imam waktu itu, kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat sunnah dengan memperlama diri. Setelah selesai shalat, beliau mengangkat gamisnya seraya berkata, ‘Lihat, apakah kalian melihat sesuatu di bawah gamisku?’

Ternyata, ada kumbang besar yang sudah menyengatnya di 16 atau 17 titik tempat, Sehingga membuat tubuhnya bengkak karenanya. Maka, salah seorang dari mereka mengatakan, ‘Mengapa engkau tidak keluar dari shalat sejak awal dia menyengatmu?’

Beliau menjawab, “Aku sedang membaca surat, lalu aku ingin menyelesaikannya.

Buku-Buku Karya Imam Bukhari

satumedia.co

Sebagai ulama hadits terkenal, buku-buku Imam Bukhari kebanyakan membahas tentang hadits. Buku yang paling terkenal adalah Shahih Bukhari atau Jami’ Shahih Bukhari. Dalam buku tersebut terdapat ribuan hadits shahih. Bahkan, para ulama menyebut Shahih Bukhari sebagai buku paling benar di atas muka bumi ini setelah Al-Qur’an.

Selain itu, ada Tarikh al-Kabir, Tarikh al-Ausath dan Tarikh ash-Shagir. Ketiga buku ini membahas nama-nama orang yang meriwayarkan hadits dan sifat-sifatnya. Ada sebagian dari kitab-kitab tersebut yang ditulis saat beliau berusia 18 tahun saat di Madinah.

Kemudian, ada al-Adab al-Mufrad, kitab hadits yang membahas tentang adab dan akhlaq.

Guru-Guru Imam Bukhari dan Murid-Muridnya

Perjalanan hidupnya saat menuntut ilmu membuat beliau memiliki banyak guru, jumlahnya kira-kira seribu lebih. Adapun guru-guru Imam Bukhari, dianataranya:

  1.  Muhammad bin Salam al-Baikandy dari kota Bukhara.
  2.  Abu Bakar bin Abdullah bin Zubair dari kota Makkah.
  3.  Mutharrif bin Abdullah saat Imam Bukhari belajar di kota Madinah.
  4.  Muhammad bin Sinan, Shafwan bin Isa dan Imam Ahmad di Iraq kota Baghdad dan lainnya.
  5.  Utsman bin Saighah di kota Mesir.
  6.  Yusuf al-Faryabi saat di kota Syam.

Murid-Murid Imam Bukhari

  1.  Imam Muslim.
  2.  Imam at-Thirmidzi.
  3.  Imam an-Nasa’i.
  4.  Imam ad-Darimy
  5.  Abu Hatim ar-Razzi.

Dan masih banyak lagi yang lain.

Kisah imam Bukhari Difitnah

Sebagaimana yang sudah kami tulis, bahwa setelah Imam Bukhari beajar keluar kota, Makkah, Madinah dan lain-lain, beliau ke Bukhara. Di sana, beliau mengajarkan ilmu agama dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam. Sampai-sampai membuat gubernur Bukhara yang bernama Khalid bin Ahmad adz-Dzahly tertarik ingin belajar untuknya dan anak-anaknya.

Kemudian, Khalid pun mengirim utusan untuk menggil Imam Bukahri ke istananya. Namun, Imam Bukhari tidak mau, sebab ilmu itu didatangi bukan mendatangi. Akhirnya, gubernur pun marah dan Khalid bin Ahmad memfitnah Imam Bukhari. Beliau juga mengusir Imam Bukhari dari Bukhara.

Imam Bukhari pindah ke kota Samarqandi dan tinggal di sana bersama kerabatnya di desa Kottank. Namun, meskipun beliau sudah pindah, Khalid bin Ahmad masih terus memfitnah Imam Bukhari, sehingga beliau kesulitan menyebarkan ilmunya.

Kisah Wafatnya Imam Bukhari

Imam Bukhari wafat, pada malam Idul Fitri tahun 253 Hijriyah dan jenazah beliau dikuburkan di kota Samarkandi. Setelah jenazah Sang Imam dikuburkan, tiba-tiba tanah kuburan Imam Bukhari mengeluarkan aroma harum atau wangi, sehingga orang-orang yang datang untuk mengambil tanah kuburan Imam Bukhari. Akhirnya, dibangun pagar di sekeliling kuburan Imam Bukhari agar mereka tidak bisa mengambil tanahnya.

Muhammad bin Hatim, “Sebelum Imam Bukhari wafat, beliau mengatakan kepada kami, ‘Kafanilah aku dengan tiga kain kafan dengan tanpa baju dan sorban. ‘Setelah itu, kami pun melakukannya, kami mengkafaninya lalu menshalatkannya dan menguburkannya.

Ternyata, di dalam kuburnya keluar aroma harum seperti kasturi dan itu berlangsung selama beberapa hari. Orang-orang pun berdatangan ke kuburnya selama berhari-hari untuk mengambil tanahnya hingga kami buatkan jaring (untuk menghalanginya).”

Baca Juga Yaa Pengertian Biografi

Itulah Kisah Imam Bukhari Yang Mengagumkan. Semoga Allah subhaanahu Wa Ta’ala merahmati Imam Bukhari dan semoga kita bisa meneladani sikap beliau dan semangat dalam menuntut ilmu.

Tinggalkan komentar